Clozaril oh Clozaril

Posted in schizophrenia with tags , , , on June 2, 2008 by leakbarax

Sudah seminggu ini Komang tidak bisa tidur tenang, setiap malam gelisah, dan ada kalanya tidak tidur semalaman. Siang hingga malam dia ‘bertugas’ di arena sabung ayam yang memang lagi marak di Denpasar khususnya. Untuk bebotoh sekelas Komkom (begitu saya dan istri sering menyebut nma Komang), dimana pun lokasi judi sabung ayam, tak peduli apa pun yang terjadi, walaupun harus berjalan kaki, dia harus hadir di arena itu. Selain menyalurkan hobby, juga berebut untuk ‘bekerja’ disana, dimana upah yang diterima tergantung menang atau kalahnya ayam yang dipegang…..

Selama ini Komang tidak boleh putus obat. Dulu pernah beberapa kali putus obat sehingga proses pengobatan harus direset ulang yang memaksa Komang harus mendekam 3x di Rumah Sakit Jiwa. Komang bukanlah gila, dia mengalami gangguan jiwa yang orang awam biasanya langsung mengatakan sebagai gila, padahal tidak. Keseharian Komang kadang diisi dengan membantu tetangga, mengantarkan kakek2 ke puskesmas, mengantarkan nenek2 ke pura, dsb apalagi disuruh beli sesuatu, dia akan langsung ngeluyur pergi. Tentunya dia akna minta uang rokok ya..Rp 1500 minimal…

Sebulan yang lalu, kami ke RSUP Sanglah meminta resep obat untuk Komang. Seperti biasa diresepkanlah Risperidone 2mg dan TriHexyPhenidyl dengan dosis masing-masing 1 tablet sehari. Dulu pernah diberikan disuntik medycate, tetapi Komang semakin tidak terkendali yang memaksanya masuk IRD pada jam 1 pagi. Disana diberikan 2x suntik Diazepam dosis tinggi, tetapi Komang tetap saja jalan kesana kemari dari ruang triage IRD ke sal Lely, hingga memaksa dokter jaga menuliskan resep Clozaril 100mg yang harus saya tebus Rp 35.000 sebiji..

Sejak saat itu, beberapa kali memang Komang harus minum Clozaril, yang memang lumayan cepat menenangkannya, namun memiliki efek samping dimana dia akan makan terus sehingga membuat bentuk tubuhnya berubah menjadi gentong.. Setelah 4bulan mengkonsumsi Clozaril, akhirnya obatnya diganti dengan Risperidone yang generik dan tentunya harganya lebih murah Rp 3000 sebutir. Sehari minum 1-2 butir. Namun kami selalu menyediakan Clozaril untuk jaga-jaga manakala kondisi memburuk karena jika Komang tidka tidur apalagi sampai 2hari, maka dia akan melakukan hal-hal yang anah-aneh pada waktu malam hari. Untungnya pada waktu itu Dr Sri dari Poli iwa RSUP Sanglah memberikan resep Clozaril tersebut.

Sudah dua hari ini Komang tidak tidur, mana persediaan Clozaril kami habis. Terpaksa kami coba ke Apotik Adhi Guna yang di Jl Sutoyo Dps, yang selalu ramai itu dengan menunjukkan copy resep. Namun alangkah terkejutnya kami karena copy resep ditolak. Dengan memohon kepada ‘boss’ apotik sana dimana kami hanya minta sebutir saja…itupun membuatnya tak bergeming. Katanya untuk clozaril harus ada laporan dan harus ada resep dari dokter jiwa…weleh weleh. Kami memutar otak bagaimana caranya memperoleh resep, mana tidak ada dokter spesialis jiwa yang buka di hari minggu, lagian kalau ada, pasti susah membawa komang ke dokter.

Pada waktu yang bersamaan Komang sudah datang dari mandi ke pantai Sanur, sebelumnya dia melakukan hal yang aneh yaitu membuat minyak kemenyan yang hampir membakar dapur kita. Katanya sih itu minyak untuk obat, tapi pastilah dia hanya menuruti apa kata bisikan yang ia dengar. Dengan tangan hampa kami tiba di rumah mendapati Komang telah tidur, rupanya dia kecapean sehabis keliling seharian dan mandi di pantai. Malam ini kami lga, setidaknya kami(saya dan istri) bisa tidur dengan lebih nyenyak, tidak sebentar2 bangun karena Komang melakukan hal yang aneh-aneh.

Kembali ke Kampung Halaman

Posted in schizophrenia with tags , , on June 2, 2008 by leakbarax

Lanjutan dari Coba Isolasi

Sekembalinya di Denpasar, Komang tidak mengalami perubahan, bahkan dapat dikatakan menjadi-jadi. Saya tahu bahw Ibu selalu mengatakan bahwa kabar mereka baik-baik saja dengan harapan konsentrasi kerja saya tidak terganggu. Nyatanya keadaan di rumah semakin runyam, Komang membakar apa yang mungkin dia rasa tidak berguna (sesuai dengan bisikan yang dia dengar), seperti kursi, tempat tidur, membabat semua tanaman yang ada di halaman sehingga jadi gersang, mengecat lantai dan peralatan sembahyang dengan cat kayu putih, menempeli dinding dengan potongan cermin dan benang, memecahkan lampu/saklar sehingga rumah jadi gelap gulita, makan tiada henti, kencing tidak pernah disiram, mengancam ibu dengan memukul-mukul pintu hingga penyok, selalu minta uang, serta sederetan teror yang pastinya membuat tidur tidak tenang. Jangankan terhadap wanita paruh baya seperti Ibu, belakangan saya juga mengalami tidak tenang tidur akibat teror dari Komang. Hampir setiap bulan komang minta disediakan uang untuk pergi ke tempat-tempat suci seperti Lumajang dan Gunung Rinjani. Melalui telepon, ibu dipaksa meminta uang kepada saya senilai 1 juta untuk keperluannya, tentunya dengan ancaman, yang membuat saya terpaksa memenuhi keinginannya tersbut karena tidak tahu mesti berbuat apa.

Pernah ketika saya pulang menengok mereka, terpaksa saya naik bis untuk penghematan karena sudah pasti nantinya selama di Bali, pengeluaran akan banyak sekali, saya mendapati keadaan rumah seperti rumah hanti, halaman tidak terawat, tidak ada pohon, sampah berserakan, di dalam rumah dapat dibayangkan betapa keadaannya benar-benar seperti rumah hantu. Ibu memberikan penjelasan bahwa Komang melarangnya melakukan kegiatan seperti menjahit, bersih2 dan sebagainya, Komang mengatakan bahwa rejeki akan jatuh dari langit. Ketika itu rupanya Komang benar-benar sedang dikendalikan oleh kawan gaibnya. Seperti kerasukan, dengan disaksikan beberapa keluarga dia meminta kami melakukan apa yang dikatakannya, tentunya sekali lagi dengan ancaman. Beberapa orang menganggap bahwa Komang sedang menjalani karmanya untuk menjadi pendeta kelak(orang tua di Bali banyak yang mengatakan bahwa yang menjadi pendeta biasanya mengalami ujian hidup yang berat seperti ini). Hal ini diperkuat dengan pernyataan yang diberikan oleh orang pintar a.k.a dukun yang mana sebenarnya saya tidak terlalu mempercayai hal-hal berbau klenik yang tidak logis tersebut, namun karena orang tua sangat mempercayainya, terpaksa saya dukung dengan dana serta apa yang bisa saya perbuat dengan harapan Komang dapat menjalani kehidupannya secara normal.

Sesekali Komang mengutarakan keinginannya membuat kamar suci untuk dia mendekatkan diri dengan Tuhan. Dengan harapan kesembuhan, dan dorongan keluarga akhirnya saya luluskan keinginan Komang dengan memberikan dia uang 2juta untuk membeli perlengkapan seperti tripleks, kayu, cat, serta perlengkapan sembahyang yang jika dikumpulkan mungkin lebih banyak daripada yang dimiliki oleh pendeta. Ternyata kamar suci bukan hanya berhenti disitu, ada permintaan membuat kolam lengkap dengan pancuran, mengisi atap rumah dengan kori, membeli pernak-pernik sembahyang dan perlengkapan upakaranya. Saya masih ingat ketika itu hampir setiap hari mengeluarkan duit mulai membeli batako, pasir, cat, semen, dsb hingga 3.5 juta rupiah, suatu jumlah yang membuat saya harus segera balik ke Jakarta karena kehabisan amunisi. Mulai saat itu, Komang selalu mengenakan busana pemangku / baju putih kamen putih pokoknya serba putih dan tutur bahasanya juga halus, termasuk jika berbicara kepada ibu. Dia merasa mendapatkan wahyu Tuhan untuk menyembuhkan orang lain atau menjadi tabib a.k.a balian. Terbukti beberapa orang dengan keluhan sakit dan tidak punya anak pernah datang ke rumah, namun sebagian besar tidak memperoleh hasil seperti yang mereka inginkan.

Mungkin karena frustasi keinginannya tidak tercapai, kira-kira setelah menjalani hal tersebut hampir 6 bulan, Komang memasuki babak baru

Lanjut ke Memulai Pengrusakan

Coba Isolasi

Posted in schizophrenia with tags , , on June 2, 2008 by leakbarax

Lanjutan dari Minum Baygon

Akhirnya sepulang dari rumah sakit, dimana taun telah berganti menjadi 2003, saya putuskan mengajak Komang ke Jakarta dengan harapan dia bisa melupakan hal-hal yang mengganggu pikirannya selama di denpasar, serta agar dia melihat dunia yang berbeda dan tidak hanya menganggap dunia itu sesempit yang dia bayangkan. Akhirnya kami berangkat ke Jakarta dengan menumpang bus Kramat Djati dengan diantar oleh Buddi yang tentunya ditemani Ita. Kami sempat dipanggil oleh petugas terminal Ubung, karena telat datang. Selama perjalanan Komang hanya diam saja, tatapan matanya kosong, seperti tidak ada kehidupan. Setelah 24jam perjalanan akhirnya kami tiba di terminal Lebak Bulus, kemudian kami naik taksi menuju tempat kos saya di Kebun Besar Fatmawati. Saya langsung berangkat kerja, sementara Komang setelah saya beri uang bekal, tidur karena kecapean mungkin. Malam harinya sepulang kerja, saya ajak nonton film di blok M, waktu itu kalau tidak salah kami nonton 007. Komang sangat heran ketika saya ajak naik metromini, dia menanyakan apakah tidak ada angkutan selain metromini tersebut, mungkin karena pertama kali naik metromini yang ugal-ugalan senggol kiri senggol kanan, berhenti sembarang tempat, kita bergelantungan, yang mana tidak pernah dialaminya selama tinggal di Bali. Saya katakan bahwa itulah angkutan yang pada waktu jam kerja hampir selalu penuh, jika nunggu yang kosong, mungkin lama sekali atau tidak akan pernah ada. Sepanjang dari kos hingga blok M hingga film selesai, Komang tidak banyak bertanya, dia lebih banyak terheran dan merenung dalan kekosongan tatapan matanya.

Hari kedua hingga keenam Komang di Jakarta sebenarnya dilalui secara biasa saja, sekian hari dia telah kenalan dengan tetangga, ibu kos, bahkan nongkrong di warung yang ada di dekat kos, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Namun satu hal yang tampaknya tidak bisa diatasi oleh Komang adalah cuaca Jakarta yang sangat panas, sehingga dia selalu minta pulang ke Bali. Saya lalu berpikir jika dipulangkan, dia akan selalu cekcok dengan ibu yang akan membuat konsentrasi kerja saya menjadi terganggu. Akhirnya saya putuskan untuk meninggalkan Komang di Bandung, di tempat kos saya dahulu, dimana saat ini ditempati oleh kawan saya, pak Gilang. Sebenarnya saya sejak bekerja di Jakarta tahun 2001, masih sering main ke Bandung setiap akhit pekan, berkunjung ke asrama Bali Viyata Tirthagangga, yang menyelenggarakan kursus tari Bali setiap hari minggu, dimana kita bisa melihat penari anak-anak yang sangat lucu-lucu, serta penari remaja yang imut-imut. Lumayan buat ajang cuci mata. Selain itu pula di Bandung masih banyak kawan-kawan, lagian di Jakarta di kos tidak ada teman, karena hampir semua pulang kampung/liburan.

Kami ke Bandung naik kereta api Parahyangan, biasanya sih saya kalau sendirian, memilih membayar diatas langsung kepada kondektur, walaupun pernah 2x kena tangkap dan didenda. Saat itu terpaksa saya membeli tiket. Perjalanan yang terasa aneh bagi Komang karena untuk pertama kalinya dia naik Kereta Api. Sesampainya di Bandung, kami dijemput pak Gilang yang sekalian saya mintai tolong untuk mengantar membeli beberapa barang kebutuhan. Selama di Bandung, Komang saya bekali 200rb seminggu, kos, kebutuhan bulanan saya sudah bayarin. Selain itu, Buddi juga meminjami sepeda motor yang dulu dia pakai kuliah di Bandung kepada Komang. Komang Cuma disuruh menenangkan pikiran sembari belajar merantau, mencari pengalaman di negeri orang. Namun selama hampir 9 bulan di Bandung tidak ada perkembangan yang berarti yang didapat, puncaknya adalah Komang berselisih dengan Bapak kos, sehingga memaksa saya langsung mendeportasi Komang keesokan harinya.

Sebenarnya Komang juga melewati hari-hari yang menyenangkan selama di Bandung, jika ada waktu luang, dia pasti pergi ke Jatinangor, menengok adik kami yang kuliah di Unpad. Kata adik, hampir setiap hari Komang kesana. Saya juga mendapati banyak sekali lembaran togel di bawah kasur, ternyata hobby judinya mendapat tempat yang baik karena di sebelah kos terdapat tempat jual togel, yang waktu itu memang tidak sulit untuk dijumpai. Makanya tidak heran hampir setiap bulan bahkan mungkin duit jatah seminggu telah habis sehari sehingga sisanya terpaksa ngutang di warung depan kos atau hanya makan mie instan saja. Setiap saya menengoknya di Bandung, biasanya 2 atau 3 minggu sekali, Komang selalu merasa ada orang yang mengiriminya ilmu santet, ada polisi yang terus mengikutinya, merasa bahwa handphone yang saya berikan kepadanya dapat memonitor semua aktivitasnya, merasa bahwa dari laptop yang saya bawa, saya bisa melihat apa yang dilakukannya. Untuk mengatasi hal tersebut Komang lalu menempeli dinding dengan cermin, menuliskan aksara-aksara suci yang diyakininya dapat menolak gangguan tersebut. Dia juga mencoba mendatangi seorang kyai di Majalengka dengan bantuan teman-temannya disana, namun halusinasi tersebut tampaknya enggan menjauh darinya. Menghadapi keadaan seperti ini, saya dan orang-orang di sekitar saya sama sekali tidak menyangka bahwa ini adalah penyakit kejiwaan, semula kami mengira ini kerjaan orang iseng, atau Komang memang terlalu berkhayal, dan kami sama sekali tidak tahu apakah yang mesti diperbuat. Diskusi dengan teman dokter tidak memberikan gambaran arah ke penyakit jiwa, sehingga jalan pengobatan alternatif lebih banyak ditempuh. Mungkin karena bisikan yang sering didengarnya itulah yang membuat Komang memberikan sepucuk surat kaleng kepada bapak kos yang berisikan kata-kata makian, kebun binatang, pokoknya tidak layak untuk dikemukakan. Saya sempat ditunjukkan surat tersebut oleh bapak kos, yang menunggu saya tiba dari jakarta pada jam 2 pagi. Tentu saja saya kaget dan kecewa, setelah saya katakan bahwa Komang itu agak gila, dan rupanya bapak kos juga mengerti, maka keesokan harinya, Komang saya interogasi. Dengan santainya dia menjawab hal tersebut dilakukannya karena bapak kos terlalu mencampuri urusan Komang. Saya rasa adalah biasa jika telah akrab, maka kita akan ditegur semisal jika mau keluar pasti ditanya “Mau kemana Mas?”. Lagian Komang sering berbagi rokok dengan bapak kos biasanya. Atas kasus ini maka rencana membuatkan KTP Bandung untuk Komang tidak dilanjutkan, sehingga hanya saya yang masih memiliki KTP Bandung hingga tulisan ini dibuat.

Menyadari bahwa hubungan sudah tidak harmonis lagi, dan mengkhawatirkan tindakan Komang selanjutnya, jika saya tidak ada, dan keinginan Komang untuk kembali ke kampung halaman, maka saya putuskan hari itu juga memulangkan Komang, tentunya masih dengan harapan dia akan berubah di Bali nanti. Hingga saat ini juga saya belum tahu penyebab mengapa Komang sampai demikian, dan hanya bisa memberikan solusi sesaat, lalu lari dari masalah dengan melanjutkan kerja di Jakarta. Sebenarnya bukan tidak terpikir untuk kerja di Bali dan mengurus Komang dan Ibu disana, namun hal tersebut membawa konsekuensi adanya ketidakstabilan karena belum tentu saya ke Bali langsung kerja, sementara adik yang sedang kuliah di Bandung tidak peduli, yang jelas setiap bulan harus ada uang. Sementara ibu sakit-sakitan dan tidak bekerja, jadilah terpaksa saya pasrahkan keadaan di rumah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lanjut ke Kembali ke Kampung Halaman

Sakit Perut

Posted in Pusing with tags , on May 19, 2008 by leakbarax

Dari kemarin aku sakit perut, seperti maag tapi tidak seperti sakit perut karena salah makan/diare. Aku sudah minum promag 2 tapi belum ada perkembangan…

Minum Baygon

Posted in schizophrenia with tags , , , on May 17, 2008 by leakbarax

lanjutan dari tanda tanda awal

Entah ketakutan karena ketahuan telah menjual yang bukan miliknya, atau mendengar bisikan lain, yang jelas sehari setelah saya tiba di Denpasar, Komang dengan meminjam motor dari tetangga dan meminta uang 20rb kepada ibu, keluar entah kemana. Saat itu saya baru saja datang dari tempat teman di Gianyar (saya kalau pulang jarang tidur di rumah, karena selain tidak ada tempat juga suasananya bikin pikiran kacau). Tak berapa lama terlihatlah Komang dengan mulut penuh busa minta didoakan jika meninggal. Saya lalu sadar, pasti ada yang tidak beres dengan Komang dan dari bau mulutnya tercium bau Baygon(sampai saat ini saya masih heran mengapa merk yang satu ini sangat digemari oleh orang yang ingin bunuh diri). Saat itu ibu sudah kebingungan dengan berteriak-teriak hingga ke jalan dan mengundang banyak orang untuk datang. Sementara itu saya dengan santai mengenakan pakaian, karena cuaca sangat panas lebih enak kalau bertelanjang dada, memastikan membawa uang/ATM, baru kemudian mencari dimana dia minum Baygon…ternyata di bak di atas kamar mandi. Andai saja dia sehabis minum Baygon tidak segera turun, maka tak akan ada yang menduga dia melakukan hal tersebut di sana, karena letaknya yang tersembunyi. Beberapa tetangga lalu menggotong Komang yang mulai tidak sadarkan diri, membawanya ke luar ke jalan dan mencarikan kendaraan bak terbuka untuk membawanya ke IRD RS Sanglah yang jraknya tidak sampai 1km. Saya masih di rumah memastikan keadaan aman, sebelum bergegas ke jalan ikut naik bak terbuka bersama beberapa orang teman-temannya Komang. Saya memang sangat yakin, korban seperti Komang ini, dengan stadium yang belum parah, tidak akan mati. Tiba di RS, dengan diantar tetangga, saya mengurus administrasi yang berbelit sebelum menemui ibu yang tidak sempat memakai alas kaki yang sedang menunggui Komang yang sedang ditangani oleh petugas. Mulai sore itu selama 5hari Komang dirawat di RS dengan biaya yang tidak sedikit. Dia sempat berwasiat jika meninggal agar dibayarkan hutang-hutangnya kepada beberapa orang yang dia sebutkan namanya. Nyatanya dia tidak jadi meninggal dan saya menjadi kasir untuk membayar hutang kepada setiap penagih hutang yang datang. Dengan terpaksa saya merelakan untuk melakukan hal tersebut karena memang tidak ada pilihan yang lebih baik.

Tanda-tanda Awal

Posted in schizophrenia with tags , , on May 15, 2008 by leakbarax

Desember 2002

Seperti biasa, akhir tahun saya sempatkan untuk pulang kampung ke Denpasar, Bali dari tempat bekerja di Jakarta Selatan. Setelah memesan tiket bus di Lebakbulus seharga 250rb saya lalu melsayakan persiapan. Entah mengapa saya jadi ragu naik bis, lalu saya batalkantiket bis itu walaupun kena charge 50rb, lalu untuk pertama kalinya saya naik pesawat atas biaya sendiri(biasanya dibiayai kantor tentunya). Saya naik Garuda dengan tiket seharga 980rb, untung dapat bonus akhir tahun sehingga bisa langsung digunakan. Kala itu di Asia sedang ramai mewabah flu burung, sehingga wisatawan yang ke Bali agak sepi. Pesawat dari Singapore tujuan Denpasar, yang katanya fully-booked, ternyata terisi cuma setengah kapasitas saja. Ya, penerbangan menggunakan Garuda memang yang paling enak, apalagi menggunakan pesawat berbadan lebar macam Boeing 747. Setelah hampir 80 menit dari Soekarno-Hatta, tibalah di Ngurah Rai. Saya dijemput oleh temanku yang sangat baik yang bernama Buddi, lalu kami segera makan di Pekambingan. Ketika itu Buddi sedang falling in love dengan cewek yang bernama Ita.

Sebelum saya pulang, memang saya sampaikan rencana kepulanganku kepada ibu. Perlu diketahui bahwa di rumah yang tinggal hanyalah ibuku dengan adik laki-lakiku yang bernama Komang. Satu lagi adik perempuanku ketika itu sedang menimba ilmu di Unpad Bandung, dan saat itu belum libur sehingga belum bisa pulang kampung. Komang memang tidak mau melanjutkan sekolah ketika kami bertiga tamat dari bangku SMA, SMP, dan SD dalam waktu yang bersamaan dalam kondisi bapak yang lagi sakit dan tidak bekerja. Saya lalu disekolahkan oleh paman yang menyanggupi untuk menanggung biaya kuliah jika diterima di ITB. Jadilah sejak itu Komang mulai bergaul dengan kehidupan standar di kampung yang disebut dengan kota Denpasar, dengan bekerja serabutan mulai dari tukang sablon dan sebagainya. Tentunya dengan kondisi itu jangankan untuk membantu orang tua, untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri saja pastilah tidak cukup. Untungnya ibu masih bekerja di garment dan membuka usaha jahitan di rumah, sementara adik yang paling kecil meneruskan ke tingkat SMP.

Komang selalu mengalami peristiwa yang membuat merinding bulu kuduk, terutama bagi kami yang tinggal di Bali, yang meskipun termasyur sejagat, tetapi budaya klenik masih sangat kental, walaupun Hindu tidak hanya berisikan klenik. Apalagi mitos dan stigma yang berkembang di masyarakat ditambah ketidakmengertian kita akan penyakit yang memang telah dikenal di bidang kedokteran, turut memperparah jalan pikiran kita sehingga selama sekian tahun, beberapa tabib/dukun/orang pintar dsb telah diupayakan. Tak lupa juga memohon kehadapan Tuhan yang dilsayakan tiap hari, mungkin Tuhan belum memperkenankan atau karma kita memang harus menjalani hal ini. Memang, untuk sampai ke tingkat kesadaran seperti ini butuh waktu yang sangat lama. …Kita kembali ke Komang.

Komang selalu mendengar bisikan yang terasa aneh bagi kita orang kebanyakan, misalnya akan datangnya bahaya sehingga harus dipersiapkan penangkal seperti membuat parit di sekeliling rumah, memasang cermin di setiap sudut ruangan, dan sebagainya. Juga dia merasa seperti orang sekelilingnya selalu membicarakan dirinya, ada polisi yang selalu menguntitnya, merasa bahwa handphone / laptop dapat memonitor dimana posisinya sehingga dia menjadi waspada. Berbagai gejala tersebut tidak pernah kita tanggapi sehingga kala itu belum mengemuka.

Dasar memang bebotoh (lain dengan bobotoh Sunda) yang suka berjudi, beraneka cara digunakan untuk mendapatkan uang mulai dengan mengancam ibu, sehingga saya sebagai kakak yang tidak ada di rumah menjadi sangat khawatir hingga menjual brang barang yang ada di rumah, termasuk galon aqua. Puncaknya adalah menjual sepeda motor yang saya belikan beberapa bulan sebelumnya, dimana sepeda motor yang saya miliki di Bandung (hingga tahun 2001 saya bekerja di Bandung) terpaksa saya lego untuk Komang.

bersambung ke Minum Baygon

Ikannya mati

Posted in Pusing with tags , on May 15, 2008 by leakbarax

Entah kena penyakit apa atau sebab apa, sudah beberapa kali ikan mas koki yang da di akuarium di kantor mendadak mengambang, berenang terbalik, sesiknya mengelupas, dan siripnya berwarna merah kehitam-hitaman. Kita bingung harus diapakan, coba dipindahkan ke ember / ember tunjung tidak membuahkan hasil. Sedih juga menyaksikan ikan yang lucu-lucu itu meregang nyawa menunggu ajal…