Lanjutan dari Minum Baygon
Akhirnya sepulang dari rumah sakit, dimana taun telah berganti menjadi 2003, saya putuskan mengajak Komang ke Jakarta dengan harapan dia bisa melupakan hal-hal yang mengganggu pikirannya selama di denpasar, serta agar dia melihat dunia yang berbeda dan tidak hanya menganggap dunia itu sesempit yang dia bayangkan. Akhirnya kami berangkat ke Jakarta dengan menumpang bus Kramat Djati dengan diantar oleh Buddi yang tentunya ditemani Ita. Kami sempat dipanggil oleh petugas terminal Ubung, karena telat datang. Selama perjalanan Komang hanya diam saja, tatapan matanya kosong, seperti tidak ada kehidupan. Setelah 24jam perjalanan akhirnya kami tiba di terminal Lebak Bulus, kemudian kami naik taksi menuju tempat kos saya di Kebun Besar Fatmawati. Saya langsung berangkat kerja, sementara Komang setelah saya beri uang bekal, tidur karena kecapean mungkin. Malam harinya sepulang kerja, saya ajak nonton film di blok M, waktu itu kalau tidak salah kami nonton 007. Komang sangat heran ketika saya ajak naik metromini, dia menanyakan apakah tidak ada angkutan selain metromini tersebut, mungkin karena pertama kali naik metromini yang ugal-ugalan senggol kiri senggol kanan, berhenti sembarang tempat, kita bergelantungan, yang mana tidak pernah dialaminya selama tinggal di Bali. Saya katakan bahwa itulah angkutan yang pada waktu jam kerja hampir selalu penuh, jika nunggu yang kosong, mungkin lama sekali atau tidak akan pernah ada. Sepanjang dari kos hingga blok M hingga film selesai, Komang tidak banyak bertanya, dia lebih banyak terheran dan merenung dalan kekosongan tatapan matanya.
Hari kedua hingga keenam Komang di Jakarta sebenarnya dilalui secara biasa saja, sekian hari dia telah kenalan dengan tetangga, ibu kos, bahkan nongkrong di warung yang ada di dekat kos, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Namun satu hal yang tampaknya tidak bisa diatasi oleh Komang adalah cuaca Jakarta yang sangat panas, sehingga dia selalu minta pulang ke Bali. Saya lalu berpikir jika dipulangkan, dia akan selalu cekcok dengan ibu yang akan membuat konsentrasi kerja saya menjadi terganggu. Akhirnya saya putuskan untuk meninggalkan Komang di Bandung, di tempat kos saya dahulu, dimana saat ini ditempati oleh kawan saya, pak Gilang. Sebenarnya saya sejak bekerja di Jakarta tahun 2001, masih sering main ke Bandung setiap akhit pekan, berkunjung ke asrama Bali Viyata Tirthagangga, yang menyelenggarakan kursus tari Bali setiap hari minggu, dimana kita bisa melihat penari anak-anak yang sangat lucu-lucu, serta penari remaja yang imut-imut. Lumayan buat ajang cuci mata. Selain itu pula di Bandung masih banyak kawan-kawan, lagian di Jakarta di kos tidak ada teman, karena hampir semua pulang kampung/liburan.
Kami ke Bandung naik kereta api Parahyangan, biasanya sih saya kalau sendirian, memilih membayar diatas langsung kepada kondektur, walaupun pernah 2x kena tangkap dan didenda. Saat itu terpaksa saya membeli tiket. Perjalanan yang terasa aneh bagi Komang karena untuk pertama kalinya dia naik Kereta Api. Sesampainya di Bandung, kami dijemput pak Gilang yang sekalian saya mintai tolong untuk mengantar membeli beberapa barang kebutuhan. Selama di Bandung, Komang saya bekali 200rb seminggu, kos, kebutuhan bulanan saya sudah bayarin. Selain itu, Buddi juga meminjami sepeda motor yang dulu dia pakai kuliah di Bandung kepada Komang. Komang Cuma disuruh menenangkan pikiran sembari belajar merantau, mencari pengalaman di negeri orang. Namun selama hampir 9 bulan di Bandung tidak ada perkembangan yang berarti yang didapat, puncaknya adalah Komang berselisih dengan Bapak kos, sehingga memaksa saya langsung mendeportasi Komang keesokan harinya.
Sebenarnya Komang juga melewati hari-hari yang menyenangkan selama di Bandung, jika ada waktu luang, dia pasti pergi ke Jatinangor, menengok adik kami yang kuliah di Unpad. Kata adik, hampir setiap hari Komang kesana. Saya juga mendapati banyak sekali lembaran togel di bawah kasur, ternyata hobby judinya mendapat tempat yang baik karena di sebelah kos terdapat tempat jual togel, yang waktu itu memang tidak sulit untuk dijumpai. Makanya tidak heran hampir setiap bulan bahkan mungkin duit jatah seminggu telah habis sehari sehingga sisanya terpaksa ngutang di warung depan kos atau hanya makan mie instan saja. Setiap saya menengoknya di Bandung, biasanya 2 atau 3 minggu sekali, Komang selalu merasa ada orang yang mengiriminya ilmu santet, ada polisi yang terus mengikutinya, merasa bahwa handphone yang saya berikan kepadanya dapat memonitor semua aktivitasnya, merasa bahwa dari laptop yang saya bawa, saya bisa melihat apa yang dilakukannya. Untuk mengatasi hal tersebut Komang lalu menempeli dinding dengan cermin, menuliskan aksara-aksara suci yang diyakininya dapat menolak gangguan tersebut. Dia juga mencoba mendatangi seorang kyai di Majalengka dengan bantuan teman-temannya disana, namun halusinasi tersebut tampaknya enggan menjauh darinya. Menghadapi keadaan seperti ini, saya dan orang-orang di sekitar saya sama sekali tidak menyangka bahwa ini adalah penyakit kejiwaan, semula kami mengira ini kerjaan orang iseng, atau Komang memang terlalu berkhayal, dan kami sama sekali tidak tahu apakah yang mesti diperbuat. Diskusi dengan teman dokter tidak memberikan gambaran arah ke penyakit jiwa, sehingga jalan pengobatan alternatif lebih banyak ditempuh. Mungkin karena bisikan yang sering didengarnya itulah yang membuat Komang memberikan sepucuk surat kaleng kepada bapak kos yang berisikan kata-kata makian, kebun binatang, pokoknya tidak layak untuk dikemukakan. Saya sempat ditunjukkan surat tersebut oleh bapak kos, yang menunggu saya tiba dari jakarta pada jam 2 pagi. Tentu saja saya kaget dan kecewa, setelah saya katakan bahwa Komang itu agak gila, dan rupanya bapak kos juga mengerti, maka keesokan harinya, Komang saya interogasi. Dengan santainya dia menjawab hal tersebut dilakukannya karena bapak kos terlalu mencampuri urusan Komang. Saya rasa adalah biasa jika telah akrab, maka kita akan ditegur semisal jika mau keluar pasti ditanya “Mau kemana Mas?”. Lagian Komang sering berbagi rokok dengan bapak kos biasanya. Atas kasus ini maka rencana membuatkan KTP Bandung untuk Komang tidak dilanjutkan, sehingga hanya saya yang masih memiliki KTP Bandung hingga tulisan ini dibuat.
Menyadari bahwa hubungan sudah tidak harmonis lagi, dan mengkhawatirkan tindakan Komang selanjutnya, jika saya tidak ada, dan keinginan Komang untuk kembali ke kampung halaman, maka saya putuskan hari itu juga memulangkan Komang, tentunya masih dengan harapan dia akan berubah di Bali nanti. Hingga saat ini juga saya belum tahu penyebab mengapa Komang sampai demikian, dan hanya bisa memberikan solusi sesaat, lalu lari dari masalah dengan melanjutkan kerja di Jakarta. Sebenarnya bukan tidak terpikir untuk kerja di Bali dan mengurus Komang dan Ibu disana, namun hal tersebut membawa konsekuensi adanya ketidakstabilan karena belum tentu saya ke Bali langsung kerja, sementara adik yang sedang kuliah di Bandung tidak peduli, yang jelas setiap bulan harus ada uang. Sementara ibu sakit-sakitan dan tidak bekerja, jadilah terpaksa saya pasrahkan keadaan di rumah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Lanjut ke Kembali ke Kampung Halaman